SEJARAH
PURA LUHUR CANDI NARMADA

Pada zaman pemerintahan kerajaan “Bandana Raja”, dipesisir bagian selatan Bali terdapat sebuah desa “Tanpa Aran”. Disana hidup seorang “Bendega” (nelayan) bernama “Pan Santeng” yang menjalani kehidupannya dengan menangkap ikan melalui muara sungai yang langsung berhadapan dengan laut. Pekerjaan menangkap ikan dilakukannya setiap hari dengan sungguh-sungguh. Tidak seperti biasanya, selama tiga hari berturut-turut, ia tidak memperoleh hasil sama sekali. Akhirnya I Bendega mengucapkan “Sesangi” (janji/sot), seperti berikut :

“Ratu Ida Betara Sane malinggih ring Segara,yening titiyang polih ulam sebarean, titiyang jagi ngaturang pakelem “suku pat metanduk mas””

Semenjak itu, bila sang Bendega melaut, begitu banyak dilihat ikan, penyu, dan sebagainya dipermukaan laut, maka apa yang menjadi permintaannya mendapatkan hasil boga sebarean. Karena permohonannya terpenuhim dibuatlah pelinggih diatas batu karang dan setiap hari I Bendega melakukan persembahyangan kehadapan Ida Hyang Segara di pelinggih tersebut, sesaat sebelum melaut. Saking tekunnya yang didasarkan atas keikhlasan dan kejujurannya, pada suatu hari, tatkala melakukan persembayangan, tiba-tiba datang mega (awan) yang memancarkan sinar serta didengarnya ada suara “Sabda” yang datang dari luwuring mega (diatas awan).

Inti sari dari “Sabda” tersebut kira-kira seperti ini:

“IH KITA NARA TUHU, JATI NIRA, MANUNGGAL IKANG SABDA NGUNI RI TEJA DUKING JALADI NULUR TEMU KILAT ALIT, SATMA RING PUTRI NIRA DANG HYANG DWIJENDRA SANG MANGARAN PATNI KENITEN, RI SEKALA SANG HYANG SARASWATI”

Batu karang, tempat Pan Santeng mendirikan pelinggih, dahulunya merupakan tempat Ida Brahma Putri dari Patni Keniten sane maparab “IDA AYU NGURAH SARASWATI SWABHAWA” ke-ambil ring Ida mangda marisidayang masikian sareng, tabik pakulun, Ida Dang Hyang Dwijendra.

Semua yang dialami oleh Pan Santeng diceritakan kepada saudara-saudaranya di desa. Namun ada yang percaya dan ada yang tidak percaya. Akhirnya timbul keinginannya “manangkil” (menghadap) “Peranda Alang Kajeng”. Apa yang didengarnya, disampaikan kehadapan Ratu Peranda dan Ratu Peranda pun berujar: “Oh kamu Santeng, tuhu kadi kapwa pratyaksanumana warahing suksma yogya sapratista saupacara ghrahesta lingga makhawanang manggih suka sekala”

Disekitar pertengahan tahun 1958, seorang ibu yang bernama Ni Kicen, dari Banjar Pemamoran, Desa Adat Kuta menerima bawos niskala dari Ratu Niyang Ngurah, agar membangun Sanggar Agung, di suatu kawasan rawa-rawa hutan bakau, di Tanah Kilap. Ni Kicenyang memang dari ayah, kakek, dan kumpinya sudah biasa menerima bawos niskala, dibantu oleh enam orang pembantunya segera membangun Sanggar Agung, parahyangan Ida Ratu Niyang Ngurah, di tempat yang telah ditunjukkan secara niskala itu.

Demikian, dalam situasi dan kondisi seperti ini kepada Ni Kicen sebagai Dasaran, kemudian mendapatkan pawisik dan tuntunan niskala dari Ida Ratu Niyang Ngurah agar menetapkan rahina subhadiwasa pawedalan di pelinggihnya, yang harus dilaksanakan pada setiap hari  Sugihan Bali Galungan. Dasaran pun terus mengikuti tuntunan niskala itu. Pada suatu hari menjelang rahina subhadiwasa pujawali (pawedalan) di Pura Pasimpangan Parahyangan Ida Ratu Niyang Ngurah, Ni Kicen sebagai Dasaran di tempat itu, mendapatkan lagi petunjut niskala dari Ida Ratu Niyang Ngurah, agar memangkil (menghadap) kepada Ida Pedanda Gde Ngurah Bajing (Alm) di Griya Bajing – Kesiman, yang pada saat itu masih berkedudukan sebagai Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat. Ida Pedanda Gde Ngurah Bajing, dalam pawisik itu, agar di-tuwur oleh Dasaran Kicen, untuk memedek ke parahyangan Ida Ratu Niyang Ngurah yang berlokasi di tengah rawa-rawa hutan bakau, di kawasan Tanah KIlap.

Dalam proses perjalanan pembangunannya, tidak terlepas dari tuntunan-tuntunan indik, disamping didasarkan atas “Pawisik” (petunjut niskala), juga disertai dengan “Pembuktian dari munculnya Sinar/Api dari tempat Pelinggih Betari” yang dilakukan oleh Ida Pedanda Gde Ngurah Bajing serta disaksikan oleh parabhakta yang hadir pada saat itu. Atas dasar ketentuan indik dan kedua fenomena tersebut, akhirnya parabhakta dapat mewujudkan pembangunan “apelebahan” Pura yang dilanjutkan dengan upacara “Ngented Linggih”.

Pada akhirnya, berdasarkan tuntunan dari Ida Pedanda Gde Ngurah Bajing dari Griya Gede Bajing – Kesiman serta atas kesepakatan dari parabhakta dan pengayah, telah disepakati secara musyawarah dan mufakat, ditetapkan dan diputuskan untuk mengadakan perubahan rahina subhadiwasa sebagai tonggak pawedalan dari SUGIHAN BALI, (Rahina Sukra Kliwon, Wara Sungsang), dialihkan ke rahina subhadiwasa setiap : PURNAMANING KASA dimana pada tahun 1997 rahina subhadiwasa dimaksud jatuh pada : REDITE UMANIS WARA UKIR pinanggal masehi 20 Juli 1997. Mulai sejak terlaksananya Karya Agung Pengenteg Linggih di tahun 1997, Ratu Niyang Ngurah abhiseka : “RATU BHATARI NIHANG CAKTI” berparahyangan ring PURA LUHUR CANDI NARMADA TANAH KILAP. Sedangkan untuk setiap rahinaSukra Kliwon, Wara Sungsang (rahina SUGIHAN BALI) ditetapkan sebagai pawedalan Ratu Betari Nihang Cakti.